Dengan kartu SLI prabayar berbagai keuntungan bisa kita nikmati. Indosat PreCard misalnya, menjanjikan bonus pulsa sekitar 20%, meskipun tarif pulsanya tidak berbeda dengan tarif pulsa SLI biasa. Penerbit kartu-kartu lainnya ada yang menjanjikan tarif pulsa sangat murah, sehingga kita bisa menghemat 80 - 85%. Dengan Indosat PreCard, ke mana pun pergi, baik di dalam maupun di luar negeri, kita bisa bertelepon lintas negara, meskipun uang di dompet sudah menipis. Keuntungan lainnya, kalau kebetulan kita penggemar kartu telepon, kita bisa menambah koleksi. Bahkan, kartu SLI prabayar bisa pula dijadikan cendera mata. Pakai nomor kartu dan kata sandi Sosok sebenarnya cuma sebuah kartu plastik berukuran 85 x 54 x 1 mm. Pada bagian muka tercantum gambar dengan desain menarik disertai nama kartu, nilai nominal, dan nama perusahaan operatornya. Untuk kartu yang diterbitkan berkaitan dengan peristiwa tertentu, bagian muka ini juga dicantumkan nama peristiwanya. Kartu macam ini biasanya cukup banyak desainnya. Indosat PreCard misalnya, sampai akhir Mei lalu sudah mengeluarkan 65 desain. Namun, ada pula yang berdesain ala kadarnya. Tanpa mencantumkan nama perusahaan operatornya lagi! Bahkan, jumlah desainnya sangat terbatas dan dicetak dalam jumlah banyak sehingga kurang layak untuk dikoleksi. Pada bagian belakangnya, dicantumkan cara penggunaan kartu, nomor seri, dan masa berlakunya. Namun, informasi paling utama pada bagian belakang ini sebenarnya adalah nomor kartu, terkadang juga kata sandi atau password-nya. Nomor kartu atau kata sandi ini baru bisa diketahui bila kita menggosok lapisan penutup hitam atau membuka stiker penutupnya. Dengan nomor-nomor itulah nantinya kita bisa melakukan komunikasi telepon ke mancanegara. Nilai nominalnya beragam. Kisarannya dari Rp 50.000,- - Rp 300.000,-. Nilai nominal Indosat PreCard misalnya saat ini ada tiga, yakni Rp 50.000, Rp 100.000, dan Rp 250.000,-. "Kalau ada permintaan nilai nominal lebih tinggi dari pasar, ya akan kami layani. Saat ini rata-rata pasar bisa menyerap sampai nilai nominal segitu," tambah Indar Atmanto, general manager, Marketing Indosat. ITC dengan nilai nominal Rp 200.000,- untuk menghubungi banyak negara dan Rp 300.000,- hanya untuk menghubungi Australia, Cina, dan Hongkong. Cara menggunakannya tidak seperti kartu telepon prabayar terbitan PT Telkom. Kita cukup menggunakan pesawat telepon yang ada di rumah, hotel, atau kantor, dan mengikuti cara penggunaan yang tertulis pada bagian belakang kartu. Begitu tersambung pada lawan bicara, pemotongan biaya pulsa segera dilakukan secara otomatis. Pada beberapa kartu SLI prabayar tertentu, kita bisa mengetahui sisa pulsanya. Beda teknologi Teknologi yang dipilih setiap penerbit kartu juga berbeda. Ada yang menggunakan jaringan telepon SLI konvensional, ada pula yang menggunakan teknologi voice over internet protocol (VOIP). "Kami tidak gunakan VOIP. Kami menggunakan teknologi yang lebih baik," aku Indar. Indosat menggunakan jaringan telekomunikasi SLI biasa. Sementara penerbit kartu SLI prabayar lainnya memilih teknologi VOIP karena tarifnya bisa menjadi murah. "Tapi kualitas suara VOIP tidak sebagus SLI biasa," aku Harry C.H., penerbit salah satu kartu SLI prabayar. Pada teknologi VOIP, digunakan jaringan telepon biasa dan jaringan Internet. Aliran data suaranya, dari pesawat telepon ke mesin operator yang nomor teleponnya tertera pada kartu. Perjalanan ini melalui jaringan telepon milik Telkom. Dari operator ini, data disalurkan ke IP gateway (gerbang masuk jaringan Internet). Inilah awal data memasuki packed-switched network (jaringan Internet). Dalam jaringan ini data digital, termasuk suara, dipecah ke dalam potongan-potongan data berisi paket kode 1 dan 0. Setiap paket secara acak mencari jalur terbaiknya sendiri menuju penerima melalui routers. Lalu, paket-paket kode ini di susun kembali seperti semula ketika mereka mendekati tujuan, diubah menjadi data suara kembali, dan melalui jaringan telepon dikirim ke nomor telepon tujuan. Packed-switched network ini memungkinkan pengaturan lalu lintas komunikasi jauh lebih efisien dibandingkan jaringan telepon tradisional (circuit-switched network). Kalau digambarkan, sistem circuit-switched network mirip sistem perkeretaapian. Dalam sistem terdapat sebuah rangkaian kereta penarik gerbong data yang bergerak maju dan mundur melalui trek yang sama. Kelihatannya lebih efisien, padahal tidak. Tak seorang pun dapat menggunakan trek dan gerbongnya selama kereta sedang bergerak, bahkan ketika gerbongnya kosong. Artinya kapasitas sistem komunikasi ini mubazir lantaran tak seorang pun dapat berbicara ketika saat yang sama telah ada pembicaraan telepon. Sedangkan sistem telepon Internet lebih menyerupai sistem angkutan jalan raya. Di dalamnya terdapat sekelompok truk yang beroperasi mengangkut paket data sendiri-sendiri melalui jalan raya. Di dalam jaringan packed-switched network, setiap orang berbagi jalan raya, dan truk pembawa data dapat masuk ke dalam ruang terbuka dalam perjalanan, membuat penggunaan jalan yang tersedia menjadi efisien. Karena tingkat efisiensi yang tinggi itu, biaya pulsanya menjadi sangat murah. Sayangnya, kualitas suara telepon Internet masih sering amburadul. Kalau kebetulan traffic-nya rendah, ya kualitas suaranya bisa baik. Kalau padat, kualitasnya langsung drop. Hati-hati, ada yang ilegal Menurut Indar, kartu Indosat PreCard selain untuk menelepon dari Indonesia ke 250 negara juga bisa digunakan untuk menelepon dari luar Indonesia ke Tanah Air atau 23 negara lain. Bahkan, sejak 16 April 2000 lalu Indosat PreCard, bisa digunakan untuk pembicaraan lokal Jakarta, SLJJ, dan telepon genggam. "Tentu saja tarif pulsanya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan untuk calling card," jelas Indar tanpa menyebut angkanya secara pasti. Sedangkan ITC cuma bisa digunakan untuk menelepon seseorang di luar negeri, terutama AS dan Australia, dari Indonesia. "Memang ada penerbit kartu yang bilang kartunya bisa digunakan di luar negeri, tapi setelah dicoba ternyata tidak bisa," aku Harry yang mendesain sendiri kartu prabayarnya. Karenanya, pembeli mesti berhati-hati dan teliti dalam membeli. Kalau untuk hubungan telepon lokal, kartu ITC juga bisa digunakan. "Cuma tarifnya jadi jauh lebih mahal," jelas Harry. ITC misalnya bisa mencapai Rp 7.000,-/menit. "Karena perjalanan data suaranya harus ke luar negeri dulu sebelum akhirnya kembali ke nomor telepon tujuan di kota asal," tambahnya. Namun, kalau untuk bertelepon internasional, menggunakan kartu SLI prabayar sistem VOIP tetap lebih murah, meskipun kualitas suaranya tak menentu. Hitungan matematisnya bisa diambil contoh bertelepon ke Australia. Dengan menggunakan hubungan telepon internasional biasa, tarif pulsanya Rp 9.130,- (termasuk PPN 10%). Namun, dengan kartu ITC, biaya pulsa itu bisa ditekan hingga Rp 1.800,-/menit. Tarif pulsa ini tentu berbeda untuk kartu SLI prabayar lainnya. Perhitungan biaya pemakaian pulsanya berbeda untuk setiap kartu. Indosat Precard misalnya dipotong setiap kelipatan enam detik, sementara pada ITC dipotong setiap kelipatan 30 detik. Artinya, kalau bicara selama tujuh detik dengan Indosat PreCard, pemotongannya dihitung 12 detik. Sedangkan dengan ITC pemotongannya dihitung 30 detik. Bahkan, ada kartu SLI prabayar yang perhitungan pemakaian pulsanya per satu menit. Selain biaya pulsa tadi, pemegang kartu sebenarnya juga dibebani biaya telepon untuk menghubungi operator. Umumnya operator itu berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan. Khusus Indosat PreCard, tersedia pula alternatif yakni nomor telepon toll free, sehingga pemakai masih bisa menggunakan kartu tanpa terbebani biaya tambahan untuk sambungan lokal atau SLJJ. Sebaliknya, ada juga yang cuma melalui operator dengan satu nomor telepon lokal, sehingga bila kita berada di luar kota, kita akan terkena beban biaya SLJJ. Meski begitu, jatuhnya masih murah ketimbang menggunakan saluran internasional biasa. Bandung – Amerika misalnya, dengan fasilitas SLI biasa tarifnya sekitar Rp 9.130,- (termasuk PPN 10%). Dengan menggunakan teknologi VOIP (kartu ITC) biayanya cuma sekitar Rp 2.800,-/menit (hasil penjumlahan biaya pulsa VOIP Rp 1.500,-/menit + biaya SLJJ Rp 1.200,-/menit). "Tetap lebih murah ‘kan," tegas Harry. Yang pelu diingat, kartu-katu itu tak semuanya legal. Para penerbit kartu "ilegal" biasanya menawarkan jasanya tanpa diketahui persis siapa dan di mana mereka bekerja. Masyarakat calon pengguna jasanya cuma mengetahui nomor telepon operatornya yang tertera di kartu. Bahkan, ketika diketahui alamatnya, para penerbit kartu ini tidak segan-segan menutup "pintu" rapat-rapat dengan berbagai alasan, seperti yang dialami Intisari ketika hendak mengorek informasi sebuah kartu SLI prabayar. Untuk amannya, kalau hendak membeli kartu SLI prabayar sebaiknya kita tahu terlebih dahulu identitas perusahaan penerbitnya. Paling tidak tahu nomor telepon customer service-nya agar mudah melacaknya bila terjadi hal-hal merugikan kita. Bukankah sejak Mei lalu konsumen Indonesia sudah dipayungi undang undang perlindungan konsumen? (I Gede Agung Yudana)
This entry was posted
on 20:00:00
and is filed under
Berhemat SLI
.
You can leave a response
and follow any responses to this entry through the
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
.

