Surat Dari Abi Tercinta  

Posted by: umihasan in

Buat : Istri Abi

Assalamuálaikum Umi Ali Shalihah

Alhamdulillah washalawatu wassalamu ála Rasullillah, laailaahaillallah kurrotu aeni biha ya habiballah, pa’alaikal lohu solla daiman tuladduhuri sollallohu ‘ala Muhammad sollallohu ’alaihi wasalam.

Lama ya ndak ketemu, guratan takdir kita memang sudah seperti ini, hendak bilang apalagi. Sungguh tak pantas memang bila ada yang kita sesali, karena Abi yakin dibalik semua kejadian tentu akan ada hikmahnya, dan selalu yang terbaiklah yang Allah sediakan bagi makhluk-makhluknya. Abi hanya seorang suami yang berusaha dengan sangat, untuk menerima segala ketentuan Allah Sang Pemilik Qudrat dan Iradat. Menerima setulus hati dihadirkannya Engkau sebagai seorang isteri. Akan berusaha sepenuh hati Abi penuhi semua janji yang terpatri di masa yang telah lalu. Salam Abi haturkan buat menyapa hati Umi yang luhur. Semoga Umi senantiasa bersedia untuk bersama harungi derita yang datang, bersatu kita tempuh nikmat yang bertandang.

Mahligai perkahwinan kita memang dihujani air mata.Tapi biarlah semua itu kita rasakan saja. Rupanya kebahagiaan rumah tangga itu sangat tinggi maharnya.

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang…Tidak akan Abi tagih kesetiaamu, sesetia Hawa kepada Adam.

Atau kerinduan yang menggila seorang Laila kekasih Qais yang sangat dalam. Abi cuma berharap terimalah kehadiran Abi seadanya di sudut tersuci di dalam hati Umi…..sebagai seorang isteri sejujur hati. Andaikan sejak dulu Abi benar-benar menyadari bagaimana besarnya arti kehadiran Umi disisi Abi, tentu tak akan Abi lalui perihnya bongkahan sendu, penuh pengorbanan naluri merangkai pilu, mengharungi gurun tanpa bayu.

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang…Kehadiran Umi bagai mustika, mengerlip cahaya sakinah laksana bintang membentuk arah burujnya.

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang…Abi senantiasa membayangkan setiap hari saban waktu , dirimu hadir di sisi, tentu senyum manis Umi yang selalu mampu menenangkan jiwa Abi, kerlingan Umi yang selalu bisa mengundang senyum Abi pun akan Abi saksikan kapanpun Abi mau.

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang….....Tentu selalu sejuk mata Abi, jika mampu setiap saat memandang wajahmu duhai isteriku. Memori seperti ini mengingatkan Abi pada masa remaja, dikala Abi belajar menghamparkan tangan ke awan biru, merintih berharap tuk dapatkan isteri yang sholehah penyejuk mata dan penyeri rumahtangga.

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang…...sungguh sedih hati ini kala mengingat kenyataan, kini diri Umi tersangkar dalam kemiskinan Abi, tak punya manikam permata untuk dikalungkan, tiada lembar rupiah untuk Abi tunjukkan, tiada pula lambang kemewahan untuk bisa Abi hamparkan, diri Umi hanya mampu Abi bedaki debu, tiada pakaian mewah tersedia bahkan begitu sulitnya walau hanya ingin Abi balutkan sebuah jubah. Saat dahaga Umi datang, Abi hanya mampu menghilangkannya dengan segelas air putih itupun cuma secangkir, maafkan Abi…. Saat diri Umi kesepian dalam ketidakpedulian Abi, waktu kesedihan Umi melanda diri, sementara diri Abi tiada disisi, saat sakit Umipun tiada keberadaan Abi tuk mengobati. Abi tak tahu alasan apalagi yang bisa membuat Umi bisa setia dalam sangkar yang sepi, apakah cukup demi nilai cinta dan ketaatan atas dasar perintah-Nya pada suami?

Umi Ali Shalihah isteri Abi tersayang…...sentiasa hadapkan wajah Umi ke atas, hulurlah tangan Umi ke depan tabahlah duhai isteri Abi sayang, peganglah kata2 Abi, tidak akan Abi sia-siakan hidup Umi lagi. Semoga Umi tetap setia disamping Abi, sungguhpun kita lama tak bertemu.

Kalau Umi berjalan melalui jalan yang biasa Abi lewati saat ini, maka di suatu tempat akan Umi temukan sebuah bukit kecil. Dan di puncak bukit kecil itu, Umi akan melihat sebuah rumah berdiri indah.

Rumah itu sedang-sedang saja ukurannya. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Sehingga sangat pas untuk ditempati sebuah keluarga dengan tiga atau empat orang anak. Dinding dan atapnya berwarna sangat serasi: kuning muda dan hijau kotoran kuda.

Di seputar rumah berpagar setinggi satu meter itu, terdapat halaman yang cukup luas. Halaman depannya ditanami berbagai macam bunga. Halaman sampingnya, di kiri dan di kanan, ditanami berbagai tanaman sayuran. Ada jalan setapak menghubungkan halaman depan dengan halaman belakang yang luas. Beberapa pohon buah-buahan setinggi atap rumah tumbuh rindang di halaman belakang. Sebuah kursi taman tampak sangat serasi di tepi kolam kecil, di bawah pohon rambutan.

Rumah itu sendiri punya empat kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang duduk keluarga, satu ruang untuk mendirikan shalat, satu ruang kerja, satu perpustakaan, satu dapur, serta dua kamar mandi. "Ruang makan" berhadapan dengan dapur, menghadap kolam kecil di halaman belakang. Sangat nyaman rasanya, sarapan pagi sambil memperhatikan ikan-ikan mas dan nila berkeliling di dalam kolam. Atau makan malam sambil bermandikan cahaya bulan yang menerangi halaman belakang. Diiringi suara gemericik air dari air terjun mini di sekitar kolam. Sebab, yang Abi sebut sebagai ruang makan di sini, adalah area yang separuhnya ada di bawah atap rumah, bersambung dengan dapur, dan separuhnya lagi berada di luar, tanpa atap permanen. Dinding kaca tembus pandang memisahkan dua ruangan ini.

Masih banyak lagi cerita menyenangkan tentang rumah itu. Tak akan ada habisnya bila Abi ceritakan pada Umi. Hanya, ada satu kelemahannya: rumah itu masih berada di puncak bukit, di suatu tempat yang bisa terlihat dari jalan yang biasa Abi lewati namun belum bisa Abi masuki.

Memang, sebenarnya bukit itu tak terlalu tinggi, tapi tetap saja tidak mudah bagi Abi untuk mendaki hingga puncaknya. Hingga kini, Abi belum pernah mencapai puncak bukit itu. Padahal, itu adalah salah satu impian terbesar Abi. Bukannya Abi tak pernah mencoba mencapainya, tapi mungkin Abi memang masih harus bersabar lagi. Lagipula Abi khawatir, bila saat ini Abi sudah sampai di puncak bukit itu, maka tak ada lagi puncak-puncak lain yang menghiasi ruang mimpi Abi. Bukankah setelah puncak, tak ada lagi yang lain selain arah yang menurun?

Biarlah suatu saat saja Abi gapai puncak bukit itu lalu memasuki rumah yang ada di sana. Abi yakin suatu saat hal itu akan terwujud. Dan Abi berharap Mi!!!, Abi akan melakukannya bersama Umi. Selama saat itu belum tiba, Abi juga berharap Umi tak akan bosan menemani Abi berjalan (walau kadangkita berjalan teramat pelan) menuju rumah di puncak bukit kecil itu. Biarpun terkadang harus melewati jalan berkerikil tajam, atau menjumpai tikungan yang tiba-tiba menghadang, Abi yakin akan mampu mengatasinya, selama Umi bersedia menemani Abi berjalan. Dan kita akan tetap berjalan berdampingan, bergandengan tangan, karena Umi dan Abi punya satu impian………impian yang sama.

Semua hal diatas adalah bagian dari mimpi-mimpi yang sedang Abi kejar saat ini. Kini saatnya Abi ingin berbagi hal yang juga sering Abi ingat dari kenangan yang telah lewat dan telah menjadi pengalaman berharga, yang tak akan Abi lupakan.

Seringkali Abi mengingat masa yang telah lewat, masa di saat suatu malam sudah beranjak mendekati subuh, Abi terbangun sejenak. Abi lihat Umi yang sedang terbaring letih menemani si bungsu yang saat itu masih begitu kecil. Abi tatap wajah Umi yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian badan Umi tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap.

Beruntunglah pengaruh air wudhu yang senantiasa membasahi wajah Umi setiap hari, justru menambah kecantikan Umi kian berseri. Abi pun membayangkan tentang keesokan harinya, disaat Abi sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tapi sebaliknya tubuh letih Umi bahkan barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.

Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian Umi-nya, membisingkan telinga Umi dengan tangis serta membasahi pakaian Umi dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan Umi jua yang harus mencucinya. Disaat seperti itu, Umi ingin tahu apa yang Abi pikirkan tentang Umi? Abi tak lagi memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama Abi menuntut Umi untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugas sebagai seorang istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, Abi tak akan sampai hati mendambakan tentang seorang wanita yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut. Tentu saja Abi tidak tengah mengajak Umi membiarkan membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak….Abi hanya ingin mengajak Umi memahami isi pikiran Abi, dikala melihat bahwa tatkala tubuh Umi amat letih, sementara Abi sebagai suami tak pernah menyapa jiwa Umi, maka amat wajar kalau Umi seringkali kehabisan rasa sabar. Begitu pula manakala mata Umi yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka amat wajar ketegangan emosi Umi akan menanjak. Disaat itulah jari Umi yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitan yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar…., saat ini, Abi berusaha untuk memahami, bahwa seorang istri shalihah seperti Umi memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada suami. Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwa tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Abi akui keberadaannya, maka tentu Abi tidaklah pantas menyalahkan siapapun kecuali diri Abi sendiri jika gejolak jiwa seorang istri tiba-tiba meledak. Jangankan Umi yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam menghadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Kini Abi pahami, jika Abi menginginkan Umi selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu diberikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu Abi berikan agar hati Umi tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak. Ada penerimaan yang perlu Abi tunjukkan agar anak-anak tetap menemukan Umi-nya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang. Ada ketulusan yang harus Abi usapkan kepada perasaan dan pikiran Umi, agar Umi senantiasa tetap mememiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita, sepenat apapun Umi. Tentu saja ada yang lain: pengakuan. Meski Umi, Abi tahu tak pernah menuntut, tetapi seringkali Abi menunggu sampai muka Umi berkerut-kerut.

Bayangan Abi terus berjalan, waktu kini melewati tengah malam, Abi sedang memandang Umi yang terbaring letih, lalu Abi berpikir sejenak, tak adakah yang bisa Abi lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa pula tanpa kata. Dan sungguh, Abi saat ini sadar, sebenarnya betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti, ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Lalu Abi sampaikan kepada Umi ketika mata Umi telah terbuka,“Mi ada secangkir minuman hangat untuk Engkau istri Abi yang shalihah. Perlukah Abi hantarkan kemari?“ Kalau sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Abi lakukan. Mungkin sekedar membantu Umi meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, tentu saja asal tak salah pasang niat. Kalau Abi terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil, tentu semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tentu tak ada artinya apa yang Abi lakukan. Abi tidak akan mendapati amal-amal Abi saat kelak berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, Abi sungguh menyesal……banyak hal terlewat yang tiada Abi lakukan, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Ingin sekali Abi tunjukkan langsung, bahwa selalu akan ada pengakuan untuk Umi, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa Umi-lah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan Abi untuk menyatakan terima kasih, tak akan ada lagi airmata duka yang menetes, tak akan ada lagi saat, Umi berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar, ataupun merasa tak diperhatikan. Dan semoga pula dengan perhatian yang ingin sekali Abi berikan kepada Umi, kelak Umi akan berkata tentang Abi sebagaimana ‘Khadijah berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Bayangan Abi terus berlanjut, sesudah Abi puas memandangi Umi yang terbaring letih malam itu, setelah Abi perhatikan gurat-gurat penat di wajah Umi, Abi biarkan Umi sejenak untuk meneruskan istirahat. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidur Umi, menggerakkan tangan Abi menarik sehelai selimut untuk Umi, yang sempat melorot. Abi tarik selimut itu dan menghamparkan ke tubuh Umi dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. “Ya Allah masukkan hamba dalam golongan laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Begitulah Rasul-Mu bersabda. Amin”. Malam terus berlanjut, kembali Abi melanjutkan munajat dan tafakkur. Abi ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan ikatan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian untuk selalu berbuat baik.” Abi telah mengambil Umi sebagai amanah dari Allah. Kelak Abi harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana Abi menunaikan amanah dari-Nya. Apakah Abi mengabaikan, sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajah Umi, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, Abi sempat tercatat selalu berbuat baik untuk Umi. Semoga Abi dapat memberi ungkapan yang lebih agung untuk Umi.

Ingatan Abi terus mengenang ke belakang. Siapakah sebenarnya engkau, duhai Umi Ali Shalehah istri Abi, yang menyelinap ke dalam kehidupan Abi? Kita berdua hadir dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda, bahkan semula kita saling tak mengenal. Tapi kenapa disaat bersua, seketika kita saling mempercayai untuk membangun kebersamaan dalam perjalanan? Yakni mahligai rumah tangga yang telah kita jalani bersama selama ini.

Sungguh, begitu mulia mahligai yang bernama pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai dan saling berkomunikasi, apakah itu hanya sebuah angan? Tidak, sungguh Abi berharap demikian. Allah SWT menempatkan jodoh (pernikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh hamba-Nya.

Siapakah yang mengirim Umi ke dalam kehidupan Abi, duhai istri Abi terkasih? Jawabnya pasti Allah SWT. Betapa Maha Pengasih Dia, yang memberikan Umi sebagaimana ketentuannya agar setiap mahluk hidup berpasang-pasangan.

Sesungguhnya dunia perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita (istri) yang sholehah (HR. Muslim)

Betul, Umi memang hanya seorang istri, bukan pemimpin utama. Tapi sesungguhnya, Umi begitu menentukan, walau menurut banyak pendapat hanya menjadi posisi pendamping Abi. Umi tatkala menjadi istri yang suci, Abi tahu selalu menjadi pengawas Abi saat keliru melangkah.

Siapa yang dapat mengukur air mata Umi yang berderai di saat Umi berdoa memohon agar Allah menunjukkan jalan yang benar pada Abi? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan, justru seringkali mampu menjadi kekuatan untuk mengembalikan Abi ke jalan yang benar bila Abi melakukan kesalahan. Tapi, siapakah engkau, duhai Umi Ali istri Abi yang menyelinap ke dalam kehidupan Abi? Yang senantiasa mampu menjadi jalan cahaya menuju-Nya. Kesucian Umi senantiasa menjadi suar di tengah keluarga untuk membentuk keluarga sakinah. Cahaya Umi selalu menerangi perjalanan menuju pada jalan kebaikan-Nya.

Boleh Abi sedikit membocorkan rahasia? Dulu sebelum menikah, Abi berharap Abi mendapatkan istri seperti Khadijah, melindungi suaminya kala gemetar ketakutan dengan hangat selimut kasih dan dekapan sayang keibuan, atau seperti Siti Hajar, yang meski sendiri ditinggal di gurun kesepian, tapi selalu merajut kesetiaan dan teguh memegang janji. Atau Bunda Fatimah az-zahra, yang tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan meski hanya tinggal di rumah kecil berhiaskan prihatin semata, tapi ternyata, Abipun harus menyadari sepenuhnya, Abi bukan Muhammad Rasulullah yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya, atau Ibrahim yang hanif dan teguh berdiri menjaga iman, atau pula Ali bin Abi Thalib yang perkasa namun selalu santun pada sesama. Abi hanya suamimu yang seringkali masih mudah marah saat kejengkelan merusak hati, laki-laki yang akan berdiri sombong saat ada orang yang mengusik ego diri, dan bocah balita yang dibungkus dalam tubuh orang dewasa, penuh manja, kekanak-kanakan, dan senantiasa seringkali tak mau mengalah, seringkali Abi jengkel ketika Umi tak bisa melangkah secepat langkah Abi tatkala berjalan bareng, padahal seharusnya Abilah yang setiap waktu mendukungmu di jalan berbatu terjal. Atau tiba-tiba keluar kata-kata kasar saat Umi tak juga mengerti diri Abi. Padahal seharusnya Abilah yang membimbing Umi dengan lemah lembut saat Umi mendapati kesulitan. Maafkan Abi!!! Terimakasih karena telah menerima segala kekurangan Abi, sehingga karena hal itu Abi mampu belajar menerima Umi apa adanya sebagai istri yang tentu akan punya kekurangan, namun Abi sangat sadari, Umi menyimpan kelebihan-kelebihan yang justru Abi sendiri tak pernah miliki. Abi menerima Umi sebagaimana Umi bersedia menerima Abi. Inilah Abi, sungai deras yang selalu mengalir mencari lautan kasih Umi, semoga kelak akan terbaca bahwa perjalanan kita tulus menuju pada sang pencipta, mengikuti irama dalam syariatNya dan berada dalam surga abadiNya. Amin Ya Allah.

Sore, saat surat yang bersambung-sambung ini Abi tulis, hangat ruap harum secangkir kopi yang ada di hadapan Abi, makin menambah gelora kerinduan ini hingga tak terperi. Alangkah tak sabar hati ini untuk kita bisa berkumpul kembali, demikianlah Abi maknai bahagia, begitu sederhana tercipta kalau Abi mengingat masa yang lalu disaat setiap waktu kita bersama bukan hanya dalam benak mimpi kita.

Umi Ali shalihah yang menawan, cerminan perasaan Abi tentang sebuah keindahan, seakan tak ada surga lagi selain Umi walau di atas awan, istri Abi yang tercantik, terima kasih Abi atas cinta yang begitu menarik, yang Umi haturkan pada Abi setiap detik. Kata-kata ini Abi ucapkan bukan hanya buaian yang menggelitik. Umi Ali yang teristimewa, seluruh hati ini untuk Umi semata, salamanya tak akan lekang oleh masa.Umi Ali yang setia, Umi telah mampu menghapus semua duka yang Abi derita. “Ya Allah. Semoga Engkau memberi kami karunia, agar bisa bersama hingga sampai hari senja. Ya Allah hamba mohon…., lindungi istri & anak-anak hamba. Jadikanlah kami keluarga yang Sakinah dalam nama-Mu, Mawaddah dalam naungan-Mu, Warahmah dalam sebutan- Mu, Ya Allah. Amin”.

Kesabaran dan keikhlasan Umi mengelola rumah tangga membuat Abi merasa khidmat untuk beribadah. Sebaliknya, seperti yang Umi tahu, istri yang 'musyrik', bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu Umi Ali istri Abi, jadilah engkau suci untuk menjadi jalan bercahaya bagi Abi dan keluarga kita.

Wahai Umi Ali istri Abi, Abi mencintai Umi karena cinta Abi pada-Nya yang senantiasa memuliakan Umi, istri Abi yang telah melahirkan anak-anak Abi! Umi anugerah terindah dalam hidup Abi, tak henti-hentinya Abi ucapkan syukur kepada Allah atas limpahan rahmat yang telah Dia kirimkan, seorang Bidadari, walau sumpah…meski Umi berputar ratusan kali di depan cermin karena ingin melihat adakah sayap di punggung Umi, Umi tak akan menemukannya (karena semua orang salah kalau mengira bidadari harus selalu memiliki sayap). Abi berjanji…kan menjadi suami yang sayang dan selalu setia pada Umi, berusaha keras takkan sakiti hati ataupun perasaan Umi. Senantiasa menjadi imam buat keluarga, dengan segala kekurangan yang Abi miliki dan kehampaan ilmu yang Abi tahu, akan senantiasa membimbing keluarga dalam segala kebaikan. Sebaliknya tegurlah Abi jika Abi lalai... Ingin sekali Abi membayar balik semua hal yang telah terjadi, kerap kali Abi tinggalkan kalian selama ini, tinggal dgn keluarga di Cilacap...terima kasih Abi haturkan untuk Ramane, Biyunge dan Adik, Mbak2 serta Saudara2...terima kasih kerana menerima Abi apa adanya dan teramat mulia Abi ucapkan terima kasih buat Engkau isteri Abi yang amat Abi cintai,"maafkan Abi kerana kesusahan yang Abi buat, percayalah Allah itu MAHA KAYA atas segalanya, sabar ya sayang..., tenang dan menerima segalanya dengan sesungguh hati. Walau kita juga mesti ingat, Allah menurunkan penyakit tentu menurunkan obatnya, jangan sekali-kali kita berputus-asa dan kecewa. Berdoa dan berusaha adalah senjata kita yang paling ampuh, insya Allah dengan berkah Allah Swt, akan menemukan jalan keluar kita dari setiap lilitan masalah. Jangan sekali-kali kita meletakkan diri kita selemah-lemah hamba sehingga kita membiarkan diri kita tanpa membangkitkan harapan. Tak perlu Abi ingatkan, Umi pasti paham, kita tidak boleh lari dari takdir tetapi kita harus berikhtiar kerana Allah suka mereka yang berusaha dan berikhtiar" dan buat ke 2mamah Abi terindu, maafkan segala dosa anak kalian ini, yang belum mampu menjadi kebanggaan kalian, buat arwah bapak…...."pak, baru kini Na2 tahu apa itu arti ‘menjadi seorang ayah’...”Ya Allah jadikanlah kami keluarga yang bahagia, sakinah mawadah warahmah serta berikanlah kami keturunan yang baik, yang sempurna dimata Engkau, yang sholeh/ sholehah, yang berguna bagi agama dan negara. Ya Allah limpahkanlah hidayahmu untuk keluarga kami agar kami bisa menuju ke syurga-Mu yang kami nanti-nantikan keindahannya... Ya Allah jadikanlah istri hamba orang yang sabar dalam menghadapi keburukan perangai hamba... bukakanlah pintu hati hamba dan istri hamba agar selalu bersujud kepadaMu ... jadikanlah istri hamba permaisuri di hati dan bakal bidadari hamba di Syurga yang abadi. Jadikanlah anak keturunan kami mewarisi akhlak semulia Sayyidah Fatimah dan lelaki sehebat Saidina Ali Janganlah Engkau letih dalam mengingatkan kami agar selalu ingat kepadaMu. Ya Allah... Hujanilah keluarga kami dengan kebahagiaan, berikanlah kami nur kedamaian...Sesuai keterangan dari Guru dan Imam kami, biarlah kami berjauhan untuk sementara, semakin lama kami berpisah niscaya akan semakin besar kerinduan kami saat bertemu. Amin Ya Allah Ya Robbal ‘alamin.

Ini dulu ya Mi….kalau disambung-sambung terus, Abi jadi berpikir…..kapan dikirimnya.

Wassalamuálaikum Umi Ali Shalihah


Abi Ali

This entry was posted on 19:39:00 and is filed under . You can leave a response and follow any responses to this entry through the Langgan: Poskan Komentar (Atom) .

0 komentar

Poskan Komentar